Keadilan Sosial,  Perspektif

Diskriminasi Gender : Perbedaan Gender Melahirkan Ketidakadilan

Setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan martabat yang sama dihadapan Hukum maupun Agama. Sama seperti kodrat manusia yang diciptakan sebagai manusia yang berakal dan berbudipekerti yang baik. Namun, dewasa ini masyarakat memiliki standar dan penilaian tersendiri dalam menentukan sebuah ideologi gender. Konstruksi sosial semacam ini melahirkan Perbedaan Gender.

Perbedaan Gender sendiri tidak akan menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan gender (Gender Inequalities). Namun, nyatanya perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender yang mana bermula dari sistem yang diciptakan oleh masyarakat sendiri.

Konsep gender sendiri bermakna suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural pada masyarakat. Akibatnya perbedaan gender tersebut dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang mana seolah-olah sifat biologis seseorang tidak bisa diubah lagi, sehingga perbedaan-perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat gender.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan mengapa perbedaan Gender melahirkan ketidakadilan.

Marginalisasi

Marginalisasi ini terbentuk karena masih banyaknya peminggiran dalam masyarakat kita sehingga banyak dikaitkan sistem yang mengakibatkan kemiskinan. Dalam hal ini perempuan lebih banyak menjadi korban atas marginalisasi, salah satu contohnya pada sektor perusahaan/industri. Pekerja perempuan lebih rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan secara formal dari perusahaan tempat bekerja. Pada lingkup industri perempuan dikategorikan sebagai pelaku nomer dua setelah laki-laki, sehingga perempuan lebih diposisikan sebagai pencari nafkah tambahan atau pekerja sambilan.

Subordinasi

Anggapan bahwa perempuan adalah makhluk irrasional dan emosional merupakan salah satu bentuk subordinasi yang berkembang dalam masyarakat. Perempuan dinilai tidak bisa memimpin sehingga memposisikan perempuan pada posisi yang tidak penting dalam ranah Birokrat ataupun Korporate. Ada contoh lain ketika kita berkecimpung dimasyarakat umum, perempuan dinilai sebagai subjek yang tidak memiliki andil penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kedudukan mereka seringkali dinomorduakan, mereka cenderung direndahkan jika dibandingkan dengan laki-laki. Dikotomi seperti ini melahirkan ketidakadilan gender dengan memposisikan bahwa Perempuan tak seharusnya memiliki sesuatu yang lebih tinggi dari laki-laki, dan laki-laki lebih diutamakan dalam berbagai hal ketimbang perempuan.

Stereotipe (Pelabelan)

Pelabelan kepada individu atau kelompok acapkali terjadi di masyarakat. Umumnya mereka dilakukan dalam hal untuk membenarkan atau sebagai suatu pembelaan atas tindakan dari suatu kelompok atas kelompok lainnya. Seperti halnya pelabelan ini menunjukkan adanya kekuasaan yang timpang dengan tujuan untuk menguasai pihak lain. Seperti halnya pada budaya patriarki pada rumah tangga tugas utama perempuan adalah melayani suami. Dalam kehidupan bermasyarakat perempuan yang bersolek dinilai untuk memancing perhatian lawan jenis sehingga pelimpahan kasus Kekerasan dan pelecehan seksual lebih cenderung menyalahkan korbannya.

Kekerasan

Serangan atau invasi terhadap fisik maupun psikis yang dilakukan perorangan, kelompok dan masyarakat. Kekerasan biasanya timbul karena adanya persepsi Feminitas dan Maskulinitas yang berkembang dimasyarakat. Umumnya gender dan keadaan tertentu dianggap lebih dominan dan memiliki kekuatan dari gender yang lainnya.  

Beban Kerja

Adanya pelabelan atas ‘Pekerjaan Perempuan’ atau ‘Pekerjaan Laki-laki’ dimasyarakat seringkali melahirkan bias gender yang mengakibatkan timpangnya beban kerja. Masyarakat lebih suka dipuaskan dengan jika memasak, merawat anak, menyapu dan pekerjaan rumahan lainnya sebagai pekerjaan perempuan daripada pekerjaan laki-laki. Dengan pertimbangan bahwa perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/dliyauna/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757